EMBUN KEHIDUPAN

Saturday, February 22, 2014

Gugatan Dimulai

ingatan selalu punya cara untuk mengganggu. bukan, bukan karena ia datang di saat yang tidak tepat. melainkan diri yang selalu tidak siap dengan tikaman.

"kau harus balas!" teriakan menancap kuat tepat di pusat memori menyimpan berbagai macam cerita.

aku curiga mata sudah berkomplot dengan si pengacau. kukira selama ini ia masih patuh di bawah kendaliku. mula-mula aku mengamati setiap bayangan yang beterbangan menghampiri. kusapa satu persatu. entah dari mana mereka datang, yang jelas mereka sangat mengenaliku. dekat sekali. mungkin saja aku pernah menjadi bagian dari mereka di masa lalu.

rupanya tanpa sepengendalianku pertemuanku dengan bayangan-bayangan itu dikirim oleh mata ke ingatan. kekacauan kecil dimulai. apa saja yang kutemui, bahkan sesuatu yang menurut kendaliku sebagai perjumpaan pertama, oleh mata dimunculkan goresan menyerupai kertas penuh coretan, sisa kecupan, dan yang paling kacau adalah bekas pejuh yang masih lengker!

asu, apa-apaan ini. kamu ini kerja untuk siapa? bukankah aku ini tuanmu yang memberimu makan agar kau bisa bercermin.

baiklah. sekurangajar mata padaku, aku masih perlu. seorang presiden tetap butuh maling-maling negara untuk bisa menjalankan tugasnya. aku tidak mau berkomplot dengan maling. sekalipun ia bagian dariku, harus berani aku katakan tai tetap bau busuk. yang dapat kulakukan sekarang, bagaimana aku bisa memanfaatkannya untuk kerjaku tanpa memberi ruang pemberontak kecil itu berlaku kurang ajar lagi.

aku sudah cukup capek. besok akan kumulai eksperimen pertama. malam ini biar mata sang pemberontak kecil ini rehat secukupnya.
Lanjutkan luka ....!