EMBUN KEHIDUPAN: jalan hidup buku

Saturday, May 24, 2014

jalan hidup buku

dari sekian buku bertemakan pencarian hakikat kehidupan yang pernah kubaca, setidak-tidaknya ada 4 judul yang paling membekas dan selalu membenam dalam diriku. "Mantiqu't-Thoir" (The Conference of Birds/Rembugan Manuk) karya Fariduddin Attar, "Also sprach Zarathustra" (Thus Spoke Zarathustra/Cangkeman Zarathustra) karya Friedrich Nietzsche, "Siddharta" karya Hermann Hesse, dan di urutan buntut dari tema sejenis yang pernah kubaca adalah "Die Verwandlung" (The Transformation/Coro a.k.a Kecoa) karya Franz Kafka.

dari kesemuanya itu, yang sampai sekarang aku masih selalu gagal mengunci makna dan keindahannya adalah yang pertama. setiap kali aku membukanya kembali, bermunculan pertanyan-pertanyaan baru. pada yang kedua dan ketiga, kuakui, aku pernah mempraktekkannya secara ekstrim dan pernah malah kusesali. apa saja itu? baca saja apa yang dikhotbahkan si tua gila Zarathustra dan Sidharta muda keturunan Brahmin yang malah berguru pada seorang lonte! menyesali karena kemudian aku mengambil arah lain menjadi manusia "ambigu" yang gagal bertransformasi dari kecoa menjadi singa. bukan singa dalam arti kekuatan jiwa, melainkan singa hasil ramuan Madura berlabelkan "Singa Malam".

dari perjalanan yang pernah ku lalui, suatu waktu kusesali orientasi hidup yang pernah kutuliskan di sekira usia 21 tahun berubah total. alih-alih menuntaskan pertanyaan ke arah mana dan mengapa aku mengambil salah satu dari sekian arah, aku dihadapkan pada kesibukan-kesibukan duniawi yang entah akan berujung ke arah mana.

dari buku yang kubaca, pernah aku menyesali mengapa dulu tak sedikitpun aku melahap buku-buku motivasi dan istilah kerennya "leadership" yang mengisahkan jalan kehidupan sukses dengan cara-cara yang sistematis. sungguh alur yang kujalani sama sekali jauh dari formula keharmonisan hidup yang menentramkan.

dari alur hidup yang kuceritakan, jika para pembaca buku "Rembugan Manuk" memilahkan fase pencarian ke dalam tujuh tahapan, maka aku sendiri tidak tahu ada di tahapan mana aku sekarang ini. jika tahapan-tahapan kehidupan formal diurutkan berdasarkan sekolah - bekerja - menikah - beranak, maka bisa saja aku hampir sudah melewati 3/4 dari bagian alur kehidupan.

dari itu semua, sampai dengan aku menuliskan catatan ini aku merasa kosong. pikiranku seperti kanak-kanak, bedanya pada kepalanya ada pikiran tentang kehidupan baru seorang bayi. ia seperti si cengeng Gregor Samsa yang tak tahu malu memikirkan nasib gadis perkasa bernama Greta. dan pada itu semua, kecemasanku pada apa-apa saja di sekelilingku tak lebih dari kecemasan akan diriku sendiri.

Labels:

1 penitip luka:

Blogger Destaayu Wulandari goreskan luka...

Adei bayinya udah lahirkah, Mas Udin... Soleh atau solehah?

11:57 PM

 

Post a Comment

<< Kembali ke gerbang luka