Seri
Lomba Blog
Telah kunyatakan segala suasana hati melalui sederatan kata yang kupilih. Segala macam bentuk kucoba, namun tetap saja tak mampu merangkai sakit hatimu. Sekali lagi aku gagal meyakinkanmu untuk sebuah kata "maaf".
Kata-kata itu kini justru menikamku. Bukan maaf yang kau berikan, tapi kebencian yang kudapat. Pengakuanku ternyata malah membuatmu menutup pintu maaf yang sedianya akan kau bukakan untukku.
Pengakuanku justru membuka aib baru yang menambah kebencianmu padaku. Perihal yang kau duga sengaja kutup-tutupi. Kau lantas mengatakan aku sebagai pembohong!
Memang, aku sempat mengumpatmu. Dasar kau keras kepala. Berhati batu!
"Ya, memang kita tidak akan pernah cocok. Jika kau pun sudah menyadarinya, lalu untuk apa dipaksakan?" jawabmu ketika itu.
Kau tak akan pernah mengerti. Tak akan pernah. Kenapa aku masih mempertahankanmu. Karena aku ingin mencoba mengerti kamu. Tapi kau.....
"Aku memang nggak bisa mengerti kamu?" sautmu.
Sudahlah. Berbicara denganmu selalu saja berakhir dengan pertengkaran. Setiap kalimat yang kauucapkan meninggi. Entah siapa yang mulai. Dalam hati aku berkata, kau lebih keras kepala dari orang yang pernah kujumpai. Dia bisa berkompromi. Tapi kau, memang benar-benar bebal!"
Aku takkan melanjutkan lagi kata-kataku. Kuakhiri saja cerita ini sampai di sini. Semoga di lain waktu, dalam suasana hati yang berbeda, kau akan membacanya lagi. Hingga kau menyadari bahwa dalam diamku, aku pun terluka.
Dalam diam, aku telah memaafkan atas ketakmengertianmu itu.