EMBUN KEHIDUPAN: Terasing

Tuesday, June 20, 2006

Terasing

Kau bilang hujan tak pernah turun lagi
Dibalik jendala kamarmu itu, kau menulis sajak ini:

Lihatlah, bumi beretakan, hutan kepanasan, gegunungan marah, kepada singa kepada babihutan yang tak pernah santun.
Lihatlah mereka, tidakkah kau temukan anasir itu,
Kalian ternyata serupa. Maka berdiamlah menerima murka!


Kau bilang hujan tak pernah turun lagi
Dibalik jendala kamarmu itu, kau menulis sajak ini:

Lihatlah, bumi beretakan, hutan kepanasan, gegunungan marah, kepada singa kepada babihutan yang tak pernah santun.
Lihatlah mereka, tidakkah kau temukan anasir itu,
Kalian ternyata serupa. Maka berdiamlah menerima murka!

Wahai pujangga,
Kepada siapa kau berlindung, dibalik kata-katamu yang agung,
Sementara kau biarkan makhluk-makhluk di sekitarmu teraniaya.

Keluarlah dari balik jendela kamarmu itu
Agar kau bisa kembali menghidupi kata-katamu.


Berikut ini adalah tanggapan Hasan Aspahani di milis SEJUTA_PUISI@yahoogroups.com

*****
Apa Kabar di Semarang?


Jangan disalahkan, atau jangan merasa bersalah dengan puisi. Menyadari bahwa penyair dan puisinya kadang terasing dengan kenyataan itu perlu. Tapi puisi dan penyair tidak selalu harus terasing dari kehidupan. Puisi itu seharusnya ada di dalam kehidupan. Ia mengambil peran dalam kehidupan. Apa pun yang tengah terjadi dalam kehidupan itu. Termasuk bencana.

Selain harus menghayati - antara lain dengan jalan mengalami - peristiwa sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya, penyair harus sesekali mengambil "jarak aman" dari peristiwa. Pada saat itulah ia bisa melihat dengan cakrawala yang lebih luas. Ada hal yang tidak akan pernah sempurna kita hayati apabila kita terlalu dekat dengan hal itu. Bahkan kita harus meninggalkan kekasih untuk menciptakan rindu yang hebat, bukan? Dengan rindu, kita akan melihat kekasih kita dengan warna, rupa, dan aroma yang berbeda.

Kita harus puasa. Puasa jarak. Puasa ingat. Kita harus menjauh karena kita yakin bahwa kita tak akan pernah sepenuhnya meninggalkan. Kita harus melupakan karena kita tahu pasti bahwa kita tak akan pernah bisa seluruhnya menghapuskan. Apa yang masih kuat menarik dalam jarak yang kita bentang, apa yang masih tertinggal sebagai ingatan setelah kita mencuci otak dengan lupa adalah sesatu atau sedua atau setiga yang boleh kita hadirkan dalam puisi. Kita jadikan alasan untuk melahirkan puisi.

HAH

0 penitip luka:

Post a Comment

<< Kembali ke gerbang luka