EMBUN KEHIDUPAN: Kisah Lama Kembali Datang

Monday, September 25, 2006

Kisah Lama Kembali Datang

Aku gugup menghampirimu siang itu. Kau melempar senyum. Kujabat tanganmu yang halus. Sesekali menatap merah dibibirmu yang mulai luntur oleh terik. Tapi wajahmu masih terlihat bersih dalam balutan kain jilbabmu. Sungguh, aku masih mengagumimu.

Kita pun kemudian hanyut dalam obrolan. Aku menanyakan kabarmu. Sebaliknya, kau pun menyakan bagaimana kabarku. Memang, kita jarang, bahkan tak pernah lagi terlibat obrolan intim seperti ini, meski sesekali berjumpa. Kuakui akulah yang seringkali mengacuhimu saat kita bertemu. Bukan karena angkuh, aku tak siap bila harus menatapmu lebih lama. Aku cemas bila rasa itu kembali datang. Susah payah aku membunuhnya. Sementara aku tak tau, apakah kau masih merasakan hal yang sama.

Tapi, siang itu kudengar kabar darimu bahwa kau tak lagi menjalin hubungan dengannya, orang yang membuatmu meninggalkanku saat itu. Kita batal melanjutkan hubungan. Padahal saat itu, kau lah yang memulai. Kau lah yang membuatku tertarik kepadamu setelah kudengar ceritamu dari seorang sahabat karibmu yang juga dekat denganku.

Semula aku tak percaya jika ternyata selama ini kau juga menyimpan rasa yang sama seperti yang kurasakan. Sampai seorang teman meyakinkanku bahwa kau memang benar-benar ingin menjalin hubungan denganku.

Sehari, dua hari, sebulan, aku masih belum memanfaatkan peluang itu. Padahal ini sudah lama-lama kunanti. Bulan kedua, ketiga, aku mulai melakukan pendekatan. Kita memang mulai dekat. Ngobrol seputar kehidupan pribadi, ketertarikan bersama, dan lain-lainnya. Tapi aku belum memutuskan untuk mengikatmu.

Aku sangat menyesal, ketika hendak bertekad-bulad untuk lebih serius menjalin hubungan, kau memutuskan untuk kembali kepada mantan kekasihmu. Memang, ini karena salahku. Aku terlalu lama membiarkanmu dalam ketidakpastian.

Dan sekarang, kau memberiku kabar bahwa kau kini seorang diri. Bahkan kau menegaskan tak ingin lagi kembali kepadanya. Sebelum mengakhiri percakapan, aku sempat menanyakan keinginanmu selanjutnya. Kau bilang sedang menunggu, menanti sampai dengan seseorang datang kepadamu. Tak banyak kriteria, yang penting setia, rajin beribadah....

Aku mohon pamit, Kau tersenyum manis sambil melambaikan tanganmu.....

Dalam hati kecilku, sejujurnya aku masih mengagumimu. Bibirmu dengan senyum yang manis, sorot matamu dibalik lentik bulu mata memancarkan sinar, segalanya.... ingin kemiliki segala yang ada pada dirimu.

Tapi aku menahan untuk tak mengatakan saat itu, karena aku masih berutang kepada seseorang. Aku berjanji untuk tak jalan dengan siapapun, ketika aku pun tak memilihnya. Aku pun sebenarnya ragu dengan kondisiku saat ini, ketika kau akhirnya menerimaku, aku tak bisa menjalaninya,....

3 penitip luka:

Anonymous Anonymous goreskan luka...

cinta sejati tumbuh dengan penuh kesadaran bahkan rela berkorban untuk mendapatkannya.

bila kamu masih suka, lakukan sesuatu untuk mendapatkannya.

jujur, aku iri dengan perempuan itu...

9:04 PM

 
Blogger Er Maya goreskan luka...

jiyee..CLBK nih..uhuyy!!

10:26 PM

 
Anonymous Anonymous goreskan luka...

Ketika masa lalu kembali datang, seringkali jadi bias batasan lalu, sekarang, dan depan ya -sigh-

7:10 AM

 

Post a Comment

<< Kembali ke gerbang luka